Bagi Wawasan

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label tokoh terbaik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tokoh terbaik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 November 2016

Colin Firth

The King’s Speech


The King’s Speech merupakan film drama Inggris produksi tahun 2010 yang disutradarai oleh Tom Hooper. Dalam film ini Colin Firth berperan sebagai Raja George VI yang menderita gagap dan untuk mengatasinya ia harus bertemu dengan Lionel Logue seorang terapis bahasa dan pidato asal Australia yang diperankan oleh Geoffrey Rush. Kedua pria itu kemudian menjadi teman, dan setelah kakaknya melepaskan tahta, raja yang baru mengandalkan Logue untuk membantunya membuat siaran radio pertamanya yaitu deklarasi perang atas Jerman di tahun 1939.

David Seidler yang merupakan penulis naskah film membaca tentang kehidupan George VI bertahan mengatasi gagap pada masa mudanya. Ia mulai menulis tentang hubungan antara raja dan terapisnya pada awal 1980an. Namun, atas permintaan jandanya raja yaitu Ibu Suri Ratu Elizabeth, ia menunda pekerjaannya hingga kematian ratu di tahun 2002. Ia kemudian menulis ulang naskahnya untuk fokus ke inti dari hubungan antara dua protagonis, 9 minggu sebelum film dimulai, buku catatan Logue ditemukan dan kata-kata mutiara dari buku tersebut dimasukan ke dalam naskah. Film ini dirilis di Britania Raya pada tanggal 7 Januari 2011 dan meraih sukses box office juga kritik, dan meraih 4 piala Oscar.


Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Chris Kyle

 American Sniper


American Sniper adalah film perang Amerika yang disutradarai oleh Clint Eastwood produksi tahun 2014. Film ini berdasarkan memoir yang ditulis oleh Chris Kyle, bersama dengan Scott McEwen dan Jim DeFelice berjudul American Sniper: The Autobiography of the Most Lethal Sniper in U.S. Military History (2012). Film yang mengikuti kisah hidup Kyle, yang menjadi pria paling mematikan dalam sejarah militer Amerika Serikat karena telah membunuh sebanyak 255 orang dalam empat tur di Perang Irak, yang 160 diantaranya secara resmi dikonfirmasi oleh Departemen Pertahanan. Sementara Kyle merayakan kesuksesan militernya, pekerjaan ini ternyata membawa beban berat bagi kehidupan pribadi dan keluarganya.

Dibintangi oleh Bradley Cooper sebagai Kyle dan Sienna Miller sebagai istrinya, Taya. Film ini beredar luas di bioskop berbagai negara mulai tanggal 16 Januari 2015 dan meraih sukses besar dengan pendapatan sekitar 547 juta dollar dan menjadi film perang dengan pendapatan tertinggi sepanjang masa, dan tentunya film Eastwood berpendapatan terbesar juga. Film ini meraih piala Oscar untuk kategori Editing Suara Terbaik.


Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Jesse Eisenberg

The Social Network


Disutradarai oleh David Fincher, film drama Amerika produksi tahun 2010 ini diadaptasi dari buku keluaran tahun 2009 karya Ben Mezrich berjudul The Accidental Billionaires: The Founding of Facebook, A Tale of Sex, Money, Genius, and Betrayal. Film ini menggambarkan pendirian website jejaring sosial Facebook dan tuntutan hukum yang dihasilkan.

Dibintangi Jesse Eisenberg sebagai pendiri Mark Zuckerberg, Andrew Garfield sebagai Eduardo Saverin dan Justin Timberlake sebagai Sean Parker. Zuckerberg dan staf Facebook tidak terlibat dalam proyek ini, meskipun begitu adalah salah satu konsultan buku tersebut. Film ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 1 Oktober 2010. Meskipun beberapa orang yang digambarkan dalam film ini mengkritisi ketidakakuratan sejarahnya, film ini memenangkan 3 piala Oscar.


Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

John Nash

A Beautiful Mind


Film Amerika produksi tahun 2001 ini merupakan film drama berdasarkan kehidupan John Nash, seorang pemenang Nobel dalam bidang ekonomi. Film ini disutradarai oleh Ron Howard yang terinspirasi dari buku terlaris karya Sylvia Nasar dengan judul sama yang masuk nominasi Pulitzer di tahun 1998. Film ini dibintangi Russell Crowe, bersama Ed Harris, Jennifer Connelly, Paul Bettany, Adam Goldberg, Judd Hirsch, Josh Lucas, Anthony Rapp, dan Christopher Plummer.

Cerita berawal dari kelulusan Nash dari Universitas Princeton dimana ia mulai menderita paranoid schizophrenia dan kondisi delusional. Keadaan ini membuat kehidupan bersama istrinya, Alicia, dan teman-temannya menjadi terbebani.

Film ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 21 Desember 2001 dan meraih pendapatan di seluruh dunia sekitar 313 juta dollar serta memenangkan 4 piala Oscar. Film ini diterima dengan baik oleh para kritikus meskipun mendapat kritik mengenai ketidakakuratannya menggabarkan beberapa sisi kehidupan Nash, terutama keluarganya yang lain dan anak lelakinya yang lahir di luar nikah.


Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Stephen Hawking

The Theory of Everything

The Theory of Everything merupakan film drama romantis Inggris produksi tahun 2014 yang diadaptasi dari memoir Jane Wilde Hawking berjudul Travelling to Infinity: My Life with Stephen, dan disutradari oleh James Marsh. Film ini berkisah tentang hubungan Jane dengan mantan suaminya yaitu ahli fisika teoritis bernama Stephen Hawking, bagaimana ia didiagnosa menderita penyakit saraf motorik dan kesuksesannya di bidang fisika.

Film ini dibintangi Eddie Redmayne dan Felicity Jones sebagai aktor dan aktris utama yang tayang pertama kali pada Toronto International Film Festival pada tanggal 7 September 2014. Penampilan Redmayne sebagai Stephen Hawking banyak dipuji dan membuatnya memenangkan beberapa penghargaan dan nominasi termasuk memenangkan piala Oscar kategori Aktor Terbaik.


Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Leonardo DiCaprio

The Aviator


Disutradarai oleh Martin Scorsese, The Aviator adalah sebuah film drama Jerman-Amerika yang diproduksi tahun 2004. Dibintangi Leonardo DiCaprio sebagai Howard Hughes, Cate Blanchett sebagai Katharine Hepburn dan Kate Beckinsale sebagai Ava Gardner.

Film ini berdasarkan buku non-fiksi di tahun 1993 yaitu Howard Hughes: The Secret Life oleh Charles Higham. Film ini menyoroti kehidupan Howard Hughes, seorang pionir penerbangan dan sutradara Hell’s Angels, yang berlangsung antara akhir tahun 1920an hingga akhir 1940an. Waktu dimana Hughes menjadi seorang produser film yang sukses dan seorang tokoh terkemuka penerbangan sementara secara bersamaan ia menderita OCD (obsessive–compulsive disorder). The Aviator rilis di Amerika Serikat pada tanggal 25 Desember 2004. Film ini meraih pendapatan box office senilai 214 juta dollar dan meraih 11 nominasi Oscar.


Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Alan Turing The Enigma

 The Imitation Game


The Imitation Game merupakan sebuah film thriller drama sejarah yang diproduksi tahun 2014, disutradarai Morten Tyldum, atas dasar biografi Alan Turing: The Enigma oleh Andrew Hodges. Dibintangi oleh Benedict Cumberbatch sebagai kriptanalis asal Inggris bernama Alan Turing yang mendekripsi kode intelejen Jerman untuk pemerintah Inggris selama Perang Dunia II. The Imitation Game sukses secara komersial dan kritik.

April 2015, film ini meraih pendapatan seluruh dunia sekitar 227 juta dollar dengan anggaran produksi sekitar 14 juta dollar yang membuatnya menjadi film independen berpendapatan terbesar di tahun 2014. Film ini mendapat 8 nominasi pada perhelatan Oscar yang ke 87 meskipun dikritik karena ketidakakuratan atas peristiwa yang terjadi dan kareakter Turing serta hubungan pribadinya.

Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Bobby Fischer dan




Pawn Sacrifice


Pawn Sacrifice adalah sebuah film drama asal Amerika produksi tahun 2014 berdasarkan kisah nyata tentang Bobby Fischer melawan grandmaster catur asal Soviet (kini Rusia) selama Perang Dingin dan puncaknya adalah di tahun 1972, saat Kejuaraan Catur Dunia (World Chess Championship) melawan Boris Spassky di Reykjavik, Islandia. Film ini disutradarai oleh Edward Zwick dan naskahnya ditulis oleh Steven Knight. Dibintangi Tobey Maguire sebagai Bobby Fischer, Liev Schreiber sebagai Boris Spassky, Lily Rabe sebagai Joan Fischer, dan Peter Sarsgaard sebagai William Lombardy. Dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 16 September 2015.

Sumber dari http://4muda.com/10-film-biografi-tokoh-ternama-terbaik/

Lord Voldemort (serial harry potter)




Lord Voldemort adalah seorang tokoh ciptaan JK Rowling dalam novel Harry Potter. Voldemort digambarkan sebagai tokoh yang sangat jahat, kejam, licik, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Terlahir dengan nama Tom Marvolo Riddle, Voldemort dikenal sebagai salah satu siswa Hogwarts yang paling cemerlang di masanya. Tidak heran, ia sangat hebat dalam sihir dan ditakuti oleh nyaris seluruh penyihir hingga titik di mana rakyat sihir takut untuk menyebut namanya. Sehingga, Voldemort kerap disebut sebagai "Kau-Tahu-Siapa", "Pangeran Kegelapan", atau "Dia Yang Namanya Tak Boleh Disebut". Pada Harry Potter dan Relikui Kematian, radio pemberontak "Pantauan Potter" (Potterwatch), menyebutnya sebagai "Pemimpin Pelahap Maut".

Kata Voldemort sendiri berasal dari anagram nama "Tom Marvolo Riddle" yaitu "I Am Lord Voldemort". Cerita perubahan Voldemort dari Tom Marvolo Riddle menjadi Lord Voldemort merupakan sebuah kisah psikologis menarik dari JK Rowling. Tom Marvolo Riddle(Voldemort) dilahirkan pada tanggal 31 Desember 1926 di sebuah panti asuhan di London.
Kehidupan awal, pendidikan sihir, dan menjadi penyihir Hitam
Informasi lebih lanjut: [[:Horcrux]]

Masa lalunya banyak terungkap pada Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran. Ayah Voldemort bernama Tom Riddle Sr., adalah seorang muggle, (istilah dalam dunia sihir untuk komunitas non-sihir alias manusia biasa tanpa kekuatan sihir). Ibunya bernama Merope Gaunt, penyihir berdarah murni dari keluarga Gaunt, keturunan terakhir salah satu pendiri Hogwarts, Salazar Slytherin. Merope menggunakan Ramuan Cinta untuk memikat Tom Riddle senior. Akhirnya Tom Riddle Sr. menjadi tergila-gila pada Merope dan mereka kawin lari ke London. Setelah 3 bulan mereka menikah, Merope mengandung Tom Riddle Junior (Voldemort), lalu dia memutuskan untuk berhenti menggunakan Ramuan Cinta pada Tom Riddle Sr. karena dia mengira Tom Riddle Sr. saat itu juga telah membalas mencintainya. mungkin dia mengira Tom Sr. akan tinggal demi anaknya. Namun, dugaanya dua-duanya keliru. Tom Sr. meninggalkannya, tak pernah menjenguknya lagi, dan tak pernah bersusah-payah mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya. Jadi pada waktu medekati akhir kehamilannya, Merope sendirian di London dan sangat membutuhkan uang, benar-benar membutuhkannya sampai-sampai di terpaksa menjual satu-satunya miliknya yang sangat berharga, yaitu kalung Slytherin, kepada Caractus Burke yang hanya terjual dengan harga 10 Galleons. padahal, kalung itu tak ternilai harganya. Ketika Voldemort lahir, ia dititipkan di panti asuhan. Merope memilih meninggal daripada menggunakan kekuatan sihir untuk bertahan hidup.

Setelah lulus Hogwarts, Voldemort berkelana. Ketika kembali ke Inggris, ia sudah banyak berubah dan telah menjadi penyihir hitam. Sejak masa sekolahnya di Hogwarts, Voldemort telah memiliki kumpulan pengikut yang tergabung dalam Pelahap Maut, dan kumpulannya ini kemudian menjadi pengikut setianya setelah ia menjadi penyihir hitam yang berkuasa dan paling ditakuti di dunia penyihir. Voldemort sangat sulit dibunuh karena ia membagi nyawanya menjadi tujuh bagian dalam Horcrux. Ia mengetahui rahasia Horcrux dari guru favoritnya, Professor Horace Slughorn pada tahun keenamnya di Hogwarts. Sejak saat itulah, ia mulai menjalankan misi besarnya, menguasai dunia sihir. Pertama-tama, ia membunuh ayahnya sendiri (Tom Riddle Sr.), beserta seluruh keluarganya.
Voldemort dalam seri Harry Potter
Buku pertama hingga ketiga

Ia dimunculkan di buku pertama sebagai "orang yang membunuh orangtua Harry", yang akhirnya dikalahkan oleh kekuatan cinta dan pengorbanan ibu Harry, Lily, dan kehilangan tubuhnya. Harry pun memiliki bekas luka berbentuk petir di dahinya. Voldemort berusaha untuk bangkit kembali, di buku pertama ia merasuki Quirinus Quirrell, guru Hogwarts untuk mencoba mencuri Batu Bertuah, namun gagal. Kemudian, di buku kedua, muncul Tom Marvolo Riddle, manifestasi Voldemort remaja, yang menyembunyikan memorinya di sebuah buku harian, yang merasuki adik Ron Weasley, Ginny, yang diceritakan sebagai gadis pemalu yang menyukai Harry Potter sendiri[1]. Ia menggunakan Ginny untuk membuka kamar Rahasia dan melepaskan Basilisk, yang meneror Hogwarts di buku kedua. Pada akhirnya, kebenaran terungkap. Ialah Voldemort di waktu muda. Namun, ia berhasil dikalahkan dan buku harian itu dihancurkan, dan Basilisk tewas.[1] . Buku harian tersebut ternyata adalah Horcrux (terungkap pada buku keenam).

Voldemort tidak dimunculkan dalam buku ketiga. Namun, ia muncul di pikiran Harry ketika ia pingsan akibat serangan Dementor. Kemudian, menjelang akhir cerita, Profesor Trelawney, membuat ramalan bahwa "Pangeran Kegelapan ditinggalkan sendiri tanpa teman. Pelayannya, yang telah menunggu selama 12 tahun, akan kabur untuk bergabung dengan tuannya pada malam ini. Pangeran Kegelapan akan bangkit dan lebih jahat dari sebelumnya"[2]. Meskipun diperkirakan pelayan itu adalah Sirius Black, ternyata ia adalah Peter Pettigrew, yang menyamar sebagai tikus Ron, Scabbers.
Buku keempat hingga keenam

Pada buku keempat (Piala Api), Voldemort akhirnya berhasil bangkit kembali dengan cara memanipulasi jalannya Turnamen Triwizard untuk menangkap Harry (yang dijadikan juara keempat oleh Barty Crouch Jr., yang menyamar sebagai Alastor Moody). Dengan ramuan dari darah Harry dan tangan Peter Pettigrew, Voldemort berhasil bangkit dan kuat kembali. Namun, Harry berhasil lolos dengan bantuan efek mantra balik (Priori Incantatem).

Voldemort pernah bertarung langsung dengan Albus Dumbledore di buku kelima, di Kementerian Sihir. Dua penyihir terhebat didunia bertemu dalam pertempuran sengit, Lord Voldemort di pihak Buruk vs Albus Dumbledore di pihak Kebenaran. Voldemort memancing Harry ke Departemen Misteri untuk mencuri ramalan tentang mereka berdua. Harry, yang di seri ini sedang mengalami tekanan emosi berat, pergi dan akhirnya harus menghadapinya kembali. JK Rowling menyatakan dalam seri ini, terbukti bahwa Harry adalah orang yang masih punya rasa kemanusiaan, dibandingkan musuhnya yang sudah tidak memiliki jiwa kemanusiaan lagi. Dan pada buku keenam, Voldemort mulai menebarkan teror dan membunuh banyak orang, terutama anggota Orde Phoenix dan simpatisannya. JK Rowling mengatakan, dalam seri ini, masa lalunya mulai terungkap (lihat bagian Kehidupan Awal, pendidikan sihir, dan menjadi Penyihir Hitam). Di akhir cerita, Albus Dumbledore bersama Harry Potter berusaha mencari Horcrux dari Lord Voldemort untuk dibinasakan. Namun usaha tersebut sia-sia karena ternyata horcrux yang asli telah diambil sebelumnya oleh seseorang dan salah satunya berinisial R.A.B.
Buku ketujuh dan kejatuhan
Informasi lebih lanjut: [[:Harry Potter dan Relikui Kematian]]
Informasi lebih lanjut: [[:Relikui Kematian]]

Di buku ketujuh. Voldemort semakin giat memperluas kekuasaan. Ia berhasil menguasai Kementerian Sihir dan mendirikan pemerintahan totaliter. Ia menindas penyihir kelahiran-Muggle dengan tuduhan "mencuri sihir" (Dalam dunia kita, hal ini dapat dianalogikan dengan Holocaust maupun tindakan genosida lainnya). Ia mencari tongkat Elder, tongkat sihir yang menurut legenda, paling kuat dan membuat pemiliknya tak terkalahkan. Pencariannya bahkan hingga keluar negeri.

Kemudian, ia menemukan bahwa Harry dan kedua sahabatnya telah menghancurkan Horcrux-Horcruxnya. Ia kemudian menyerang Hogwarts dengan pasukan yang besar setelah ultimatum penyerahan Harry (yang tidak diindahkan penghuni Hogwarts), sedangkan Harry mencari Mahkota Ravenclaw. salah satu horcrux. Setelah pertempuran sengit, ia memerintahkan gencatan senjata satu jam dengan satu syarat: Harry harus diserahkan. Voldemort akhirnya membunuh Severus Snape, dengan harapan ia memiliki tongkat Elder sepenuhnya, sejak Snape membunuh Dumbledore. Ketika Harry menyerahkan dirinya kepada Voldemort untuk mati (karena ia ternyata adalah Horcrux juga), kekuatan cinta ibunya kembali menyelamatkannya. Dengan darah Harry di tubuh Voldemort, Harry tidak bisa dibunuh oleh Voldemort, dan jiwa Voldemort di tubuhnya hancur, meski ia pura-pura mati. Kembali ke Hogwarts. Harry mengungkapkan bahwa dirinya masih hidup, dan pada saat inilah, Nagini, horcrux terakhir, dimusnahkan oleh Neville Longbottom. Harry pun menyatakan bahwa ialah pemilik tongkat Elder sebenarnya, karena ia memenangkannya dari Draco Malfoy, yang memiliki tongkat itu setelah melucuti Dumbledore di akhir buku keenam. Dengan tongkat Draco, ia mengalahkan Voldemort dengan memantulkan Kutukan kematian kepada Voldemort dengan mantra pelucutan senjata (Expelliarmus). Voldemort tewas, dan mayatnya dibaringkan jauh dari para pejuang Hogwarts (gabungan siswa, guru, anggota Orde Phoenix, dan simpatisan) yang mati melawannya. Dunia sihir kembali aman dan penuh kedamaian seperti sediakala.


Sumber dari https://id.wikipedia.org/wiki/Lord_Voldemort

Sebuah Ulasan Filosofis Joker(The Dark Night)



Sebuah film tentu memiliki arti filosofisnya masing-masing. Saya percaya bahwa imajinasi tanpa filosofi sama dengan sia-sia, sedangkan filosofi tanpa imajinasi sama dengan cacat mental. Kali ini saya tertarik untuk membahas tentang ulasan filosofis dari film The Dark Knight. Meski film ini sudah tergolong kepada jajaran film jadul (2008), namun saya kira masih lezat untuk ditonton dan dimaknai isinya. Jadi bagi anda yang sangat suka dengan filosofi-filosofi kontemporer tentang kehidupan dan society, artikel ini sangat cocok anda baca sebagai teman minum kopi di pagi, siang, sore dan malam hari (hahaha enak’e sampean ae wes).

Kemarin saya sudah bahas tentang cerita dari film The Dark Knight. Setalah saya baca lagi, ternyata ulasannya agak kurang mendalam. Jadi saya sempatkan untuk membuat sebuah ulasan filosofis dari fim tersebut. Ya gak dalem-dalem sih, hanya dari perspektif saya saja. Jika anda ingin menambahkan, saya akan merasa sangat senang jika anda berkenan untuk memberikan kritik, saran, atau masukan di kolom comment.

Kesuksesan film The Dark Knight besutan sutradara “edan” (kreatif bin jenius) Christopher Nolan, terletak pada kehadiran sosok Villain, The Joker. Kedatangannya yang dramatis, jenius, spontan dan tanpa motif jelas seakan melambangkan bahwa dia benar-benar musuh Batman yang sebenarnya. Bahkan menurut saya sosok Joker lebih kuat ketimbang sosok Bane di film The Dark Knight Rises.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, sosok Joker dalam film ini dilambangkan sebagai The Agent of Chaos atau agen kekacauan. Ia ingin menghancurkan segala struktur dasar moralitas warga gotham dengan merusak figure beberapa “kesatria” Gotham seperti Harvey Dent (The White Knight) dan Batman (The Dark Knight). Dan berdasarkan ulasan pada artikel sebelumnya tentang pertempuran antara Joker dan Batman ini lebih dari pertempuran fisik, tapi juga pertempuran filosofis. Lebih lanjut lagi, biar lebih mudah saya jelaskan point per point.

1. Film The Dark Knight secara brilian sudah berhasil mengajak kita untuk menjelajahi konsep inti dari “Keteraturan” dan “Kekacauan” (Order and Chaos). Joker digambarkan sebagai penjahat super yang hidup di dunia yang penuh kekacauan, kegilaan sosial, dan tanpa moral. Dia percaya bahwa keteraturan seperti etika dan aturan sosial hanyalah kurungan/batasan yang orang buat-buat sendiri. Mereka hanya tidak ingin mengakuinya di dunia nyata (realita). Joker yakin bahwa pengakuan terhadap sistem keteraturan sosial itu hanyalah sebuah lambing kemunafikan. Setelah masyarakat berhasil keluar dari kungkungan aturan yang berlaku, mereka akan melakukan kegilaan yang sama seperti yang joker lakukan.

2. Benang pembatas antara baik dan buruk di sini menjadi ambigu, atau bisa dibilang membingungkan, semua logika yang ditawarkan oleh joker jelas sangat menggiurkan bagi mereka yang memuja kebebasan sejati. Joker pun, dalam melancarkan aksinya tidak seperti orang jahat lainnya yang hanya ingin mendapat uang atau keuntungan secara instan, ia hanya ingin menyampaikan pesannya tentang kebebebasan sejati tanpa kemunafikan. Seperti potongan quote yang ia sampaikan, “it’s about sending a massage.” Namun di sisi lain Batman juga tidak salah dalam mempertahankan “kabaikan” yang ada di dasar hati masyarakat Gotham. Ia masih percaya bahwa moralitas tidak harus dikorbankan cuma untuk meraih kebebasan absolute. Keduanya bolak balik memutar otak kita untuk berfikir lebih dalam.

3. Ini adalah poin pembahasan yang paling menarik. Dalam film The Dark Knight ini kita menyaksikan bahwa betapa mudahnya kita menjadi “setan” yang kita perangi. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kurangnya kesabaran dan ketulusan yang kita lakukan. Contoh yang paling mendasar adalah kejadian yang di alami oleh Harvey Dent, seorang pengacara wilayah yang dengan cemerlangnya memenjarakan semua penjahat besar Gotham, pada akhirnya harus menjadi penjahat itu sendiri. Perlahan rupanya ia termakan oleh provoksi Joker tentang makna kebebasan dan keseimbangan (What’s fair). Sesaat setelah kehilangan kekasih sejatinya, ia mulai menyadari bahwa sangat tidak mungkin kita bisa menjadi orang yang “benar” di waktu yang sangat “tidak benar”. So, dia lebih memilih menuntut balas, ketimbang harus menegakan keadilan yang sebenarnya.

Di akhir cerita kita melihat bahwa Batman tetap teguh mempertahankan prinsipnya, ia tidak akan pernah membunuh Joker. Meskipun ia sudah kehilangan cinta, reputasi dan segala jerih payahnya, ia tetap tidak mau masuk kedalam lubang yang sama seperti yang dilakukan oleh Harvey Dent. Ia yakin cara terbaik dengan menghukum joker adalah tidak membunuhnya, karena itulah yang membedakan dirinya dengan Joker.

Setelah semua selesai, Harvey Dent pun meninggal, menyisakan citra buruk tentang pengkhianatan yang ia lakukan terhadap kebaikan yang dulu ia tegakan. Jika saja orang tahu, maka musnahlah segala perjuangan Batman, Gordon dan Harvey (yang dulu). Namun Batman tak bisa membiarkan Joker menang. Ia ingin masyarakat Gotham tetap mendapatkan figur pahlawan yang mereka butuhkan, yaitu Harvey Dent. Dan Batman siap difitnah, diburu, dan dihina banyak orang atas kejahatan yang ia tidak pernah lakukan. Karena dia bukan pahlawan, dia adalah penjaga yang pendiam, pengawas yang penuh perhatian. Dia adalah Kesatria Kegelapan (The Dark Knight).

Sumber dari https://gumimedia.wordpress.com/2014/11/10/sebuah-ulasan-filosofis-dari-film-the-dark-knight/