Bagi Wawasan

Minggu, 27 November 2016

Sebuah Ulasan Filosofis Joker(The Dark Night)



Sebuah film tentu memiliki arti filosofisnya masing-masing. Saya percaya bahwa imajinasi tanpa filosofi sama dengan sia-sia, sedangkan filosofi tanpa imajinasi sama dengan cacat mental. Kali ini saya tertarik untuk membahas tentang ulasan filosofis dari film The Dark Knight. Meski film ini sudah tergolong kepada jajaran film jadul (2008), namun saya kira masih lezat untuk ditonton dan dimaknai isinya. Jadi bagi anda yang sangat suka dengan filosofi-filosofi kontemporer tentang kehidupan dan society, artikel ini sangat cocok anda baca sebagai teman minum kopi di pagi, siang, sore dan malam hari (hahaha enak’e sampean ae wes).

Kemarin saya sudah bahas tentang cerita dari film The Dark Knight. Setalah saya baca lagi, ternyata ulasannya agak kurang mendalam. Jadi saya sempatkan untuk membuat sebuah ulasan filosofis dari fim tersebut. Ya gak dalem-dalem sih, hanya dari perspektif saya saja. Jika anda ingin menambahkan, saya akan merasa sangat senang jika anda berkenan untuk memberikan kritik, saran, atau masukan di kolom comment.

Kesuksesan film The Dark Knight besutan sutradara “edan” (kreatif bin jenius) Christopher Nolan, terletak pada kehadiran sosok Villain, The Joker. Kedatangannya yang dramatis, jenius, spontan dan tanpa motif jelas seakan melambangkan bahwa dia benar-benar musuh Batman yang sebenarnya. Bahkan menurut saya sosok Joker lebih kuat ketimbang sosok Bane di film The Dark Knight Rises.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, sosok Joker dalam film ini dilambangkan sebagai The Agent of Chaos atau agen kekacauan. Ia ingin menghancurkan segala struktur dasar moralitas warga gotham dengan merusak figure beberapa “kesatria” Gotham seperti Harvey Dent (The White Knight) dan Batman (The Dark Knight). Dan berdasarkan ulasan pada artikel sebelumnya tentang pertempuran antara Joker dan Batman ini lebih dari pertempuran fisik, tapi juga pertempuran filosofis. Lebih lanjut lagi, biar lebih mudah saya jelaskan point per point.

1. Film The Dark Knight secara brilian sudah berhasil mengajak kita untuk menjelajahi konsep inti dari “Keteraturan” dan “Kekacauan” (Order and Chaos). Joker digambarkan sebagai penjahat super yang hidup di dunia yang penuh kekacauan, kegilaan sosial, dan tanpa moral. Dia percaya bahwa keteraturan seperti etika dan aturan sosial hanyalah kurungan/batasan yang orang buat-buat sendiri. Mereka hanya tidak ingin mengakuinya di dunia nyata (realita). Joker yakin bahwa pengakuan terhadap sistem keteraturan sosial itu hanyalah sebuah lambing kemunafikan. Setelah masyarakat berhasil keluar dari kungkungan aturan yang berlaku, mereka akan melakukan kegilaan yang sama seperti yang joker lakukan.

2. Benang pembatas antara baik dan buruk di sini menjadi ambigu, atau bisa dibilang membingungkan, semua logika yang ditawarkan oleh joker jelas sangat menggiurkan bagi mereka yang memuja kebebasan sejati. Joker pun, dalam melancarkan aksinya tidak seperti orang jahat lainnya yang hanya ingin mendapat uang atau keuntungan secara instan, ia hanya ingin menyampaikan pesannya tentang kebebebasan sejati tanpa kemunafikan. Seperti potongan quote yang ia sampaikan, “it’s about sending a massage.” Namun di sisi lain Batman juga tidak salah dalam mempertahankan “kabaikan” yang ada di dasar hati masyarakat Gotham. Ia masih percaya bahwa moralitas tidak harus dikorbankan cuma untuk meraih kebebasan absolute. Keduanya bolak balik memutar otak kita untuk berfikir lebih dalam.

3. Ini adalah poin pembahasan yang paling menarik. Dalam film The Dark Knight ini kita menyaksikan bahwa betapa mudahnya kita menjadi “setan” yang kita perangi. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan kurangnya kesabaran dan ketulusan yang kita lakukan. Contoh yang paling mendasar adalah kejadian yang di alami oleh Harvey Dent, seorang pengacara wilayah yang dengan cemerlangnya memenjarakan semua penjahat besar Gotham, pada akhirnya harus menjadi penjahat itu sendiri. Perlahan rupanya ia termakan oleh provoksi Joker tentang makna kebebasan dan keseimbangan (What’s fair). Sesaat setelah kehilangan kekasih sejatinya, ia mulai menyadari bahwa sangat tidak mungkin kita bisa menjadi orang yang “benar” di waktu yang sangat “tidak benar”. So, dia lebih memilih menuntut balas, ketimbang harus menegakan keadilan yang sebenarnya.

Di akhir cerita kita melihat bahwa Batman tetap teguh mempertahankan prinsipnya, ia tidak akan pernah membunuh Joker. Meskipun ia sudah kehilangan cinta, reputasi dan segala jerih payahnya, ia tetap tidak mau masuk kedalam lubang yang sama seperti yang dilakukan oleh Harvey Dent. Ia yakin cara terbaik dengan menghukum joker adalah tidak membunuhnya, karena itulah yang membedakan dirinya dengan Joker.

Setelah semua selesai, Harvey Dent pun meninggal, menyisakan citra buruk tentang pengkhianatan yang ia lakukan terhadap kebaikan yang dulu ia tegakan. Jika saja orang tahu, maka musnahlah segala perjuangan Batman, Gordon dan Harvey (yang dulu). Namun Batman tak bisa membiarkan Joker menang. Ia ingin masyarakat Gotham tetap mendapatkan figur pahlawan yang mereka butuhkan, yaitu Harvey Dent. Dan Batman siap difitnah, diburu, dan dihina banyak orang atas kejahatan yang ia tidak pernah lakukan. Karena dia bukan pahlawan, dia adalah penjaga yang pendiam, pengawas yang penuh perhatian. Dia adalah Kesatria Kegelapan (The Dark Knight).

Sumber dari https://gumimedia.wordpress.com/2014/11/10/sebuah-ulasan-filosofis-dari-film-the-dark-knight/

0 komentar: